Dua Dunia-Jejak Misteri Sosok Gaib Penunggu Bekas Pabrik Gula Jatiwangi
Pabrik gula Jatiwangi atau suikerfabriek Djatiwangi berada di wilayah
Jatiwangi sekarang, dan pada saat ini menyisakan sisa-sisa pabrik dan
cerobong asap, sisa lahannya menjadi kawasan komersil. Pabrik Gula
Jatiwangi didirikan pada tahun 1848 oleh R.Twiss. Pabrik gula Jatiwangi
tidak hanya dibangun pabriknya saja akan tetapi dibangun pula kompleks
pemukiman bagi para administrator dan teknisi pabrik gula yang mayoritas
merupakan non pribumi atau warga Belanda pada saat itu.
Tak hanya menyediakan rumah administrator akan tetapi juga gedung
hiburan bagai para pegawai dan kepala pabrik gula. Gedung hiburan ini
bahkan dilengkapi fasilitas lapangan tenis. Untuk mengangkut tebu dari
perkebunan tebu yang tersebar di sekitar jatiwangi, pabrik gula
menggunakan kereta lori, jaringan kereta lori tebu pabrik gula Jatiwangi
ini mencakup hingga Ligung di utara dan Balinda di barat. Pada saat
ditutupnya pabrik gula ini, nama, lokomotif lokomotif lori tebu pabrik
gula jatiwangi diberi nama hewan dengan nama besar, seperti Banteng dan
Badak. Pabrik gula Jatiwangi ditutup pada awal tahun 2000-an. Lahan
pabrik ini sempat terlantar dan menjadi kawasan yang dianggap angker
hingga sebagian lahannya diratakan untuk pembangunan kawasan komersil
sedangkan sebagian lahan pabrik masih tetap digunakan sebagai pabrik
kamvas rem.
Pabrik Gula Kadipaten atau Suikerfabriek Kadhipaten didirikan pada tahun
1876 dan kemudian diperbesar pada tahun 1911. Pabrik Gula Kadipaten
menjadi magnet berkembangnya kawasan Kadipaten sekarang. Sebelumnya
‘peran utama’ dikawasan ini berada di Karangsambung, terutama di
penyebrangan Karangsambung (sekarang berada di Desa Karanganyar,
pertemuan sungai Cimanuk dan Cilutung). Penyebrangan ini tidak hanya
menghubungkan Jalan Raya Deandels lama (Rute
Karangsambung-Ujungjaya-Conggeang-Sumedang) tetapi juga merupakan
pelabuhan sungai Cimanuk untuk mengangkut hasil perkebunan kopi menuju
Indramayu sebelum dikirim ke Batavia.
Jatiwangi sekarang, dan pada saat ini menyisakan sisa-sisa pabrik dan
cerobong asap, sisa lahannya menjadi kawasan komersil. Pabrik Gula
Jatiwangi didirikan pada tahun 1848 oleh R.Twiss. Pabrik gula Jatiwangi
tidak hanya dibangun pabriknya saja akan tetapi dibangun pula kompleks
pemukiman bagi para administrator dan teknisi pabrik gula yang mayoritas
merupakan non pribumi atau warga Belanda pada saat itu.
Tak hanya menyediakan rumah administrator akan tetapi juga gedung
hiburan bagai para pegawai dan kepala pabrik gula. Gedung hiburan ini
bahkan dilengkapi fasilitas lapangan tenis. Untuk mengangkut tebu dari
perkebunan tebu yang tersebar di sekitar jatiwangi, pabrik gula
menggunakan kereta lori, jaringan kereta lori tebu pabrik gula Jatiwangi
ini mencakup hingga Ligung di utara dan Balinda di barat. Pada saat
ditutupnya pabrik gula ini, nama, lokomotif lokomotif lori tebu pabrik
gula jatiwangi diberi nama hewan dengan nama besar, seperti Banteng dan
Badak. Pabrik gula Jatiwangi ditutup pada awal tahun 2000-an. Lahan
pabrik ini sempat terlantar dan menjadi kawasan yang dianggap angker
hingga sebagian lahannya diratakan untuk pembangunan kawasan komersil
sedangkan sebagian lahan pabrik masih tetap digunakan sebagai pabrik
kamvas rem.
Pabrik Gula Kadipaten atau Suikerfabriek Kadhipaten didirikan pada tahun
1876 dan kemudian diperbesar pada tahun 1911. Pabrik Gula Kadipaten
menjadi magnet berkembangnya kawasan Kadipaten sekarang. Sebelumnya
‘peran utama’ dikawasan ini berada di Karangsambung, terutama di
penyebrangan Karangsambung (sekarang berada di Desa Karanganyar,
pertemuan sungai Cimanuk dan Cilutung). Penyebrangan ini tidak hanya
menghubungkan Jalan Raya Deandels lama (Rute
Karangsambung-Ujungjaya-Conggeang-Sumedang) tetapi juga merupakan
pelabuhan sungai Cimanuk untuk mengangkut hasil perkebunan kopi menuju
Indramayu sebelum dikirim ke Batavia.
Comments
Post a Comment