Dua Dunia-Cerita Mistis Dibalik Pesona Alam Waduk Darma

Siapa yang tak kenal Waduk Darma ,Hamparan air ditambah keteduhan
pepohonan menjadikan tempat ini sebagai lokasi favorit tujuan wisata
masyarakat Kuningan dan Majalengka. Di masa libur Lebaran, puluhan ribu
pengunjung berdatangan ke Waduk Darma. Ada yang hanya sekadar menikmati
pemandangan alam, maupun yang berwisata naik perahu ke pulau yang ada di
tengah waduk terbesar di wilayah III Cirebon tersebut.


 NAMUN tidak banyak yang tahu jika dulunya area Waduk
Darma merupakan perkampungan penduduk. Jauh di tahun 1800-an, waduk ini
sudah terbentuk meski skalanya masih kecil. Barulah ketika zaman Jepang,
pembangunan waduk rampung dilaksanakan. Hingga sekarang, waduk tersebut
masih kokoh menyimpan jutaan kubik air. Saat itu, dampak dari
pembangunan waduk, lahan di sembilan desa harus dibebaskan. Dari
sembilan desa, ternyata hanya warga Desa Jagara saja yang harus
direlokasi alias bedol desa. Sisanya, terkena pembebasan lahan
pertanian, tegalan dan tanah angonan.

Mantan Kades Jagara Umar
Hidayat menuturkan, pembangunan waduk itu menenggelamkan lahan di
sembilan desa. Tak heran jika saat air waduk surut di musim kemarau,
suka timbul jalan aspal dan pondasi rumah penduduk yang ditenggelamkan
dan juga lahan pertanian. “Jalan aspal dan pondasi rumah penduduk itu
baru terlihat kalau air waduk benar-benar surut. Dulunya jalan aspal itu
menghubungkan Desa Jagara dengan desa di sekitarnya. Memang tidak
dibongkar jalannya, dan dibiarkan saja ketika bekas Desa Jagara itu
ditenggelamkan,” katanya kepada Radar.

Sembilan desa yang masuk
area pembangunan Waduk Darma, kata Umar, yakni Desa Darma, Jagara,
Kawahmanuk, Cikupa, Parung, Cipasung, Sakerta Barat, Sakerta Timur, dan
Paninggaran. Berdasarkan cerita dari orang tuanya, penduduk Desa Jagara
harus direlokasi ke tempat lain. Itu berbeda dengan delapan desa lainnya
yang hanya lahan pertaniannya saja yang terkena pembangunan waduk.
“Seluruh warga Jagara dipindahkan ke sisi waduk yang sekarang menjadi
desa kami. Jumlahnya saat itu sekitar 800 kepala keluarga yang
dipindahkan atau bedol desa. Bekas perkampungan Jagara masih bisa
dilihat jika air waduk surut,” terang dia.

Satu hal yang
diingatnya, beber Umar, jika di dasar waduk ada rel kereta lori
pengangkut tebu dari Ciledug menuju Ciamis. Namun sayangnya, dia dan
warga lainnya tidak pernah menemukan sambungan rel baik yang ke arah
Ciledug, Kabupaten Cirebon, maupun menuju Ciamis. “Memang bukan rel
kereta penumpang yang ada di sini, melainkan lori pengangkut tebu. Dulu
dari Ciledug ada rel lori menuju Ciamis. Nah, tebu dari Ciamis
diangkut lori ke pabrik gula di Ciledug. Tapi sekarang tidak ada
bekasnya. Yang masih tersisa ya di dasar waduk itu. Waktu itu perkebunan
tebu sampai Ciamis,” ungkap Umar.

Sebagai
warga asli Jagara yang berdiam di pinggir waduk, Umar merasa bangga
lantaran waduk ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Kabupaten
Kuningan. Selain air dari waduk ini mampu mengairi area ribuan hektare
persawahan, air waduk ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
bersih penduduk Kabupaten Kuningan. “Waduk ini juga dipakai masyarakat
untuk menjadi petani ikan air tawar. Banyak manfaat yang diperoleh dari
keberadaan waduk ini. Banyak masyarakat yang memanfaatkan waduk ini
sebagai tempat rekreasi. Apalagi ada perahu yang disewakan oleh nelayan
setempat,” sebut dia.

Waduk Darma sendiri menawarkan pemandangan
yang unik. Banyak wisatawan yang datang ke tempat ini. Seperti Rahma,
salah seorang pengunjung. Dia datang ke tempat tersebut bukan di hari
libur lantaran hanya ingin menikmati pemandangan alam. “Saya ke sini
bareng beberapa teman. Sekalin mau ke Ciamis, mampir dulu. Yah
itung-itung istirahat saja sambil menikmati deburan air Waduk Darma,” tuturnya..

Comments

Popular posts from this blog

Mengungkap Sejarah = Tokoh Pahlawan Ki Bagus Rangin